KEDIRI – Sebanyak 130 Warga Belajar (WB) Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Pagut Kota Kediri mengikuti Penilaian Akhir Semester (PAS) Pendidikan Kesetaraan Paket C kelas X dan XI, Selasa hingga Kamis (17-19/05/2022), kemudian dilanjutkan Pendidikan Kesetaraan Paket A dan B pada Senin s.d. Rabu (23-25/05/2022).
Ujian PAS Pendidikan Kesetaraan ini dilaksanakan pada pagi dan malam hari.
Bagi warga belajar yang tidak dapat melaksanakan pada pagi hari, maka dapat mengikuti ujian pada jadwal ujian malam hari. Pada jadwal ujian pagi hari dimulai pada jam 08.00 s.d. 12.00 WIB, sedangkan malam hari mulai jam 18.30 s.d. 21.30 WIB.
Ujian PAS ini dilaksanakan menggunakan model CBT seperti ujian UPK minggu lalu, di mana warga belajar menggunakan komputer yang terhubung dengan koneksi internet untuk mengakses soal ujian sebanyak dua mata pelajaran setiap harinya.
Kepala PKBM Pagut, Imam Maliki mengungkapkan pelaksanaan Penilaian Akhir Semester (PAS) ini bertujuan untuk pemetaan mutu pendidikan dan mengukur standar kompetensi warga belajar pada jenjang Paket A, B, dan C serta dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan dalam pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar di PKBM Pagut ini.
“PAS Pendidikan Kesetaraan ini berfungsi sebagai bahan pertimbangan dalam pemetaan mutu, umpan balik dalam perbaikan program pembelajaran serta alat pengendali mutu pendidikan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Kepala PKBM juga mengatakan bahwa soal untuk ujian PAS Pendidikan Kesetaraan ini sebagian pilihan ganda dan isian singkat.
“Ujian Pendidikan Kesetaraan ini selain PAS, tutor juga menggunakan sistem modul, berupa Penilaian Harian, misalnya untuk mata pelajaran IPA pada semester ini ada dua modul, maka ujiannya dilakukan bertahap mulai dari modul 1 dan 2. Kalau tidak bisa lulus di modul awal, berarti tidak bisa lanjut ke modul berikutnya. Kemudian pada akhir modul diberikan ujian akhir yang dinamakan Penilaian Akhir Semester (PAS). Untuk ujian yang dilakukan di PKBM Pagut adalah ujian berbasis komputer. Hal tersebut dilakukan agar warga belajar terbiasa menggunakan komputer agar pada saat ujian akhir mereka sudah terbiasa,” katanya.
Sementara itu, tutor PKBM Pagut, Ayu menerangkan dalam 1 (satu) tahun itu ada 5 (lima) modul untuk Paket A, B, dan C. Untuk semester ganjil menggunakan 3 modul dan 2 modul ada di semester genap dengan jumlah mata pelajaran yang berbeda. Paket A sebanyak 9 (sembilan) mata pelajaran, Paket B sebanyak 10 mata pelajaran dan Paket C sebanyak 12 mata pelajaran. WB bisa melanjutkan ke modul berikutnya dengan syarat harus lulus modul awal terlebih dahulu.
“Memang secara kualitas pendidikan kesetaraan ini berbeda dengan pendidikan formal. Metode pembelajaran yang digunakan ada 3 (tiga) meliputi tatap muka, tutorial dan mandiri. Sementara itu, untuk pelaksanaannya harus sesuai dengan peraturan yang ditetapkan pemerintah, yaitu pembelajaran minimal dilakukan 20% melalui tatap muka, minimal 30% melalui tutorial dan maksimal 50% belajar mandiri, artinya menurut standar proses tidak boleh pembelajaran pendidikan kesetaraan semuanya dilakukan mandiri atau tidak melakukan pembelajaran tatap muka,” jelasnya.
Menurut Koordinator Pendidikan Kesetaraan PAKET C, Yeni Nur Azizah, tingkat kehadiran dari WB sudah terjadi peningkatan dibandingkan dengan beberapa tahun lalu. Hal ini karena kepala PKBM Pagut sangat tegas memberikan sanksi kepada warga belajar yang jarang hadir dengan tingkat ketidakhadiran 75% berupa tidak dapat mengikuti ujian akhir yang menyebabkan mereka tidak lulus. Warga belajar tidak dapat beralasan untuk absen, karena kegiatan pembelajaran di PKBM Pagut dilaksanakan pada pagi hari dan malam hari. Jadi, WB yang sudah bekerja tetapi ingin belajar, dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada malam hari. Begitu pula WB yang berusia sekolah dapat mengikuti kegiatan pembelajaran pada pagi hari, sehingga bukan menjadi alasan lagi untuk tidak hadir mengikuti kegiatan pembelajaran.(ayu Hadidadin N Tutor PKBM PAGUT)
